Menjaga Ruang, Menjaga Makna: Catatan Kecil tentang Kota, Simbol & Kesadaran
Dalam studi kebudayaan visual, tak ada simbol yg netral. Simbol sering mengandung tafsir & dapat jadi medan kuasa. Ketika dua ikan dijadikan penanda visual utama di ruang publik, kita berhak bertanya dari mana asal maknanya & apa pesan laten yg diselipkan. Estetika sering kali dipakai sebagai pembungkus ideologi—halus, tak kentara, namun kuat mengakar di bawah sadar publik.
Simbol ikan dalam sejarah Kekristenan memiliki makna sangat spesifik. Kataichthys(bahasa Yunani untuk “ikan”) adalah akronim dariIsous Christos, TheouYios, Str—yang berarti “Yesus Kristus, Anak Allah, Juruselamat.” Ini bukan sekadar simbol perikanan, tetapi kode rahasia kaum Kristen awal dalam menghadapi tekanan Romawi. Ikan juga hadir dalam banyak kisah Injil, mulai dari mukjizat penggandaan makanan (lima roti & dua ikan), hingga metafora spiritual tentang “penjala manusia.”
Lalu, apakah dua ikan raksasa di Makassar juga merupakan bentuk pewartaan visual yg terselubung? Tentu kita tidak sedang menuduh secara sembrono. Namun penting untuk mempertanyakan konteks simbol ini muncul—siapa yg mengusung, untuk siapa ia dibangun, & pesan budaya apa yg dihadirkannya?
Yang jadi soal, simbol dua ikan tidak punya akar dalam kebudayaan Bugis-Makassar. Kita lebih akrab dengan simbol layar phinisi, naskah klasik seperti I La Galigo, atau narasi perlawanan maritim dari masa ke masa. Dua ikan sebagai simbol kota terasa dipaksakan—tidak tumbuh dari bawah, tetapi dijatuhkan dari atas.
Di sinilah kita melihat gejala reteritorialisasi simbolik: ketika simbol luar dimasukkan ke dalam ruang lokal tanpa dialog budaya yg cukup. Ini bukan hal baru. Banyak kota di Indonesia kini mengalami yg disebut Henri Lefebvre sebagai “produksi ruang” berdasarkan logika kuasa—di mana ruang publik tidak dibentuk dari akar sosial-budaya warga, melainkan dari rancang estetika yg sering kali menyimpan agenda politik maupun ideologis.
Pemerintah mungkin melihatnya sebagai bagian dari “urban beautification” atau penataan kota modern. Tapi seperti diingatkan Pierre Bourdieu, kekuasaan simbolik bekerja paling efektif justru ketika ia tidak disadari. Ketika simbol baru ditampilkan tanpa partisipasi kultural, ia berisiko jadi bentuk dominasi halus atas bukti diri lokal.
Patung dua ikan ini tidak cuma estetis. Ia adalahsemiotic insertion—penanaman makna ke dalam ruang publik. Ia bekerja seperti altar visual, yg secara diam-diam menggeser simbol-simbol lokal dari pusat perhatian. Ini bukan soal teologi, tetapi soal kontrol makna.
Dalam studi komunikasi visual & teori poskolonial, infiltrasi simbol semacam ini dapat dikategorikan sebagai bentuksoft evangelismatau evangelisasi halus. Bukan lagi lewat mimbar & gereja, tetapi lewat patung & taman kota. Bukan dengan teks agama, tetapi dengan bentuk visual yg netral di permukaan, namun sarat pesan kalau dibaca secara mendalam.
Tentu saja, beberapa akan menuduh ini sebagai paranoia berlebihan. Namun seperti diingatkan Slavoj iek, ideologi justru bekerja paling dalam ketika ia tampak normal. Simbol ikan di ruang kota mungkin tak lagi kita perhatikan setelah sebulan. Tapi ia menetap dalam lanskap batin kita. Ia jadi bagian dari visualisasi kota, & pada akhirnya dari memori kolektif masyarakat.
Simbol adalah jembatan antara imajinasi & realitas. Jika jembatan itu dibangun dengan bahan asing tanpa pondasi budaya lokal, maka akan ada yg runtuh: ingatan bersama.
Sebagai kota dengan warisan budaya yg kaya, Makassar sepatutnya merayakan bukti diri lokalnya dengan cara yg otentik. Simbol-simbol publik yg dibangun—apalagi berskala monumental—harus lahir dari dialog dengan sejarah & masyarakatnya sendiri, bukan sekadar meminjam bentuk dari luar yg secara diam-diam menggeser narasi kebudayaan. Pembangunan ruang tidak boleh jadi praktik estetik yg kehilangan konteks.
Di era visual seperti sekarang, simbol lebih cepat membentuk pencerahan daripada teks atau doktrin. Oleh karena itu, pembacaan kritis atas bentuk, patung, & ikon yg muncul di ruang kota jadi sangat penting. Ruang publik bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi medan di mana nilai-nilai budaya, keagamaan, & ideologis saling berkelindan. Dalam hal ini, patung dua ikan bukan sekadar karya seni, tetapi bagian dari narasi yg patut kita tafsirkan dengan penuh kesadaran
.