Loading Now

Dutch Wife

Dutch Wife

Konon, jauh sebelum silikon, algoritma, & kecerdasan buatan ikut campur dalam urusan kesepian manusia, ada sebuah benda sederhana yg jadi penyelamat malam-malam tropis: guling. Ya, gulingbantal panjang yg sekarang dianggap biasa-biasa saja, padahal dahulu punya reputasi internasional. Di zaman ke-17, ketika kapal-kapal Belanda berlayar ke timur, membawa rempah, candu, & kadang-kadang wabah, para pelaut itu menemukan satu kenyataan pahit: tropis itu panas, lembap, & tidak bersahabat bagi kulit pucat yg terbiasa dengan angin dharap Laut Utara.

Sejarawan Leonard Bluss dalam Bitter Bonds: A Colonial Divorce Drama of the Seventeenth Century (2002) mencatat betapa kerasnya hidup para pelaut VOC yg berbulan-bulan mengarungi lautan. Ketika hingga di Batavia, tubuh mereka lelah, kulit melepuh, & malam-malam terasa seperti sauna raksasa. Dari situ, benda sederhana bernama Dutch wife muncul sebagai solusi praktis: sebatang bambu berongga, dharap, & mudah dipeluk, yg dapat menurunkan suhu tubuh & mengusir sedikit kesepian.

Tentu, Dutch wife bukanlah istri dalam arti harfiah. Ia tidak berbicara, tidak menuntut, & tidak pernah mengeluh ketika dipeluk terlalu keras. Seperti dicatat Jonathan Clements dalam A Brief History of the Dutch East Indies (2013), benda ini hanyalah utilitarian solution to a colonial discomfort, solusi praktis untuk masalah panas tropis, tanpa niat untuk jadi simbol erotika. Namun, sejarah, seperti biasa, tidak tahan untuk tidak membumbui narasi.

Catatan-catatan kolonial, seperti yg dikaji Anthony Reid dalam Southeast Asia in the Age of Commerce (1993), sering menggambarkan Dutch wife dengan nada eksotis. Mereka membicarakannya seolah-olah benda itu adalah metafora keintiman terlarang, mengaitkannya dengan stereotip orientalis tentang dunia Timur yg sensual & liar. Narasi inilah yg kemudian menyeberang ke berbagai budaya, memberi benda sederhana ini citra yg jauh lebih rumit daripada fungsi aslinya.

Di Jepang, benda ini diketahui sebagai dacchi waifupelafalan lokal untuk Dutch wife. Dalam Pink Samurai: Love, Marriage and Sex in Contemporary Japan (1996), Nicholas Bornoff menjelaskan bagaimana istilah ini bergeser makna seiring modernisasi Jepang. Di Tiongkok, ia disebut (zh frn), istri bambu, nama yg jauh lebih jujur & tidak mengandung pretensi kolonial. Sementara itu, di Hindia Belanda, orang pribumi tetap menyebutnya apa adanya: guling.

Perjalanan benda sederhana ini tidak berhenti di era kolonial. Masuk zaman ke-20, Jepang jadi pusat perkembangan industri kesepian. Dari bambu yg polos, lahirlah boneka vinil generasi pertamamurah, ringan, dan, seperti dicatat Matt McMullen dalam The Future of Sex Robots (2018), sedikit menyeramkan kalau dilihat dengan pencahayaan yg salah. Boneka-boneka ini awalnya cuma memenuhi kebutuhan praktis, tetapi pasar segera melihat potensi komersial yg jauh lebih besar.

Lalu datang silikon. Dengan material ini, evolusi Dutch wife mencapai babak baru. Boneka tidur jadi love doll, lalu real doll, dengan kulit sintetis yg terasa seperti manusia, rambut asli, sensor panas, bahkan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan. Di sinilah, menurut Kate Devlin dalam bukunya Turned On: Science, Sex and Robots (2018), technology begins to blur the boundary between the mechanical and the emotional, menjadikan benda mati terlihat semakin hidup.

Kapitalisme, seperti biasa, tidak pernah melewatkan peluang. Kesepian dijual dalam kemasan baru, lengkap dengan slogan bombastis: Lebih dari teman tidur, Cinta tanpa pengkhianatan, atau Kehangatan yg sering ada. Dalam masyarakat modern, produk-produk ini tidak cuma berfungsi sebagai alat, tetapi juga sebagai fantasi yg dapat dipesan sesuai spesifikasi.

Namun, di tengah gegap gempita teknologi, ada ironi yg tak dapat diabaikan. Di Asia Tenggara, guling tetap jadi benda domestik biasa, netral, bahkan membosankan. Ia hadir di kamar anak-anak, rumah kos mahasiswa, hingga hotel melati, tanpa stigma atau eksotisme. Tetapi ketika istilahnya berubah jadi Dutch wife, tiba-tiba benda ini terdengar erotis, bahkan eksotis. Edward Said, dalam Orientalism (1978), sudah mengingatkan bagaimana bahasa kolonial bekerja: memberi label untuk menciptakan ilusi kekuasaan & perbedaan.

Meski wujudnya kini berbeda jauhdari bambu ke silikonbenang merahnya tetap sama: manusia sering harap memeluk sesuatu. Entah pasangan, guling, atau boneka yg dapat diprogram, kebutuhan purba itu tidak pernah benar-benar berubah. Perbedaannya cuma terletak pada harga & teknologi. Guling menawarkan kesederhanaan: tidak perlu diisi ulang, tidak perlu pembaruan sistem, & tidak pernah mogok di malam paling sunyi.

Fenomena ini juga mengungkap sisi lain manusia: keharapan untuk mengontrol hubungan. Boneka silikon yg dapat disesuaikan tinggi badan, warna mata, hingga kepribadian, menghadirkan fantasi pasangan idealpasangan yg tidak pernah membantah, tidak pernah marah, & sering siap memenuhi ekspektasi. McMullen menyebutnya sebagai programmable intimacy, keintiman yg dapat diprogram, meski tidak pernah sungguh-sungguh nyata.

Di balik semua ini, ada pertanyaan filosofis yg menggantung: apakah benda-benda ini benar-benar mengisi kesepian, atau justru menegaskan betapa kesepian itu tidak dapat diatasi dengan silikon & algoritma? Pertanyaan yang, barangkali, akan terus menghantui industri kesepian global yg tidak pernah kehadapatn inovasi, tetapi sering kekurangan jawaban.

Pada akhirnya, Dutch wife dalam bentuk bambu berongga mungkin hanyalah satu jejak kecil dari sejarah panjang kolonialisme Belanda di Nusantara. Ia cuma guling, benda sederhana yg dipeluk untuk mengusir kesepian & panas tropis, tanpa pernah menyadari bahwa namanya kelak jadi sinonim kesunyian sintetis. Namun, kalau kita mau jujur, mungkin Dutch wife bukan cuma milik masa lalu & bukan cuma berbentuk benda.

Ada Dutch wife lain yg lebih realistis, yg tidak terbuat dari silikon atau vinil, melainkan dari daging, darah, & napas. Mereka berjalan di sekitar kita, duduk di ruang-ruang kelas, berbicara dengan logat yg berwibawa, berseragam rapih tersenyum ramah di balik meja administrasi. Mereka bukan guling bambu, mereka yang, entah secara sadar atau tidak, melanjutkan pola lama: jadi representasi kedekatan sekaligus pengikat dalam rekanan yg sesungguhnya lahir dari ketimpangan.

Warisan Belanda tidak sering berupa arsitektur kolonial yg megah. Kadang warisan itu lebih halus, lebih licin, & lebih hidupmereka yg tetap ada, mengisi ruang sosial. Dan diam-diam jadi Dutch wife yg lebih canggih dari teknologi vinil & silikon, jauh lebih realistis dari tabung bambu berongga di pojok kamar pelaut VOC di Batavia.

wgnewss.com adalah segala laporan mengenai peristiwa, kejadian, gagasan, fakta, yang menarik perhatian dan penting untuk disampaikan atau dimuat dalam media massa agar diketahui atau menjadi kesadaran umum.

  1. https://paste.beba.st/
  2. https://shortlyfi.com/
  3. https://socialprooff.com/
  4. https://twitemedia.com/
  5. https://gametendangbola.com/
  6. https://kringtube.com/
  7. https://allgamerandom.com/
  8. https://qrgenerator1.com/
  9. https://multitoolspro.com/
  10. https://newstreetjob.com/
  11. https://bignewss.com/
  12. https://batam.co.id/
  13. https://wgnewss.com/
  14. https://kalilinux.info/
  15. https://wiblinks.com/
  16. https://magictoolsthemes.com/
  17. https://sunting.id/
  18. https://wagam.net/
  19. https://www.billspennsyphotos.com/
  20. layarkaca21
  21. mulia77
  22. maxwin25
  23. slot25
  24. https://slot25.it.com/
  25. https://www.billspennsyphotos.com/
  26. slot ngacir
  27. lk21
  28. http://conciliacion-metrowifi.etapa.net.ec/