Loading Now

Alako: Kata & Kuasa dalam Belantata Politik Lokal Sidrap

Alako: Kata & Kuasa dalam Belantata Politik Lokal Sidrap

Di negeri yg memiliki lebih dari tujuh ratus bahasa, kesalahpahaman bukanlah musibah linguistik, melainkan prosedur pertahanan budaya. Di sini, kata-kata hidup seperti seniman jalanan: lincah, improvisasional, & kadang-kadang—sangat menyesatkan. Mereka bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga perangkat semantik licik yg kerap tampil dengan kostum berbeda di setiap panggung. Ambil satu kata, & ia dapat menjelma jadi berkah dalam satu semiosfer, lalu berubah jadi kutukan dalam semiosfer lain. Selamat datang di republik homofoni, federasi tafsir bebas bersyarat.

Bayangkanlah sebuah pentas kampanye di Kabupaten Sidrap. Spanduk berkibar, nasi kotak dibagikan, & rakyat berkumpul seperti kawanan semut yg sudah mencium aroma gula program. Di atas pentas berdirilah seorang politisi flamboyan, Syaharuddin Alrif—yang lebih diketahui dengan akronim ramah media: SAR. Dengan gaya oratorik yg sudah dikalibrasi oleh konsultan politik & disemprot hairspray retoris, ia mengangkat tangan & berteriak penuh semangat: “ALAKO!”

Seketika, penonton bergemuruh. Bukan karena mereka paham, tetapi karena mereka harap percaya bahwa mereka paham. Di telinga orang Bugis, “alako” terdengar manis seperti undangan makan gratis: “Ambil saja.” Ia adalah mengatakan yg menyerupai keramahan paman baik hati yg mempersilakan keponakannya mengambil permen di meja ruang tamu. Dalam semiosfer Bugis, “alako” adalah bentuk dermawan dari bahasa: sebuah restu kultural untuk menerima, menikmati, dan—jika perlu—mengambil dua kali.

Namun, bagi telinga Madura, mengatakan yg sama memikul beban berbeda. “Alako” di sana tak lagi berarti pemberian, melainkan instruksi kerja paksa. Ia terdengar seperti bentuk ringkas dari manifesto neoliberal: “Kerja, sana!”—suatu perintah ekonomis tanpa basa-basi, tanpa subsidi, & sangat anti rebahan. Ini bukan bahasa kemurahan hati, tetapi bahasa produktivitas. Sebuah panggilan suci bagihomo economicusuntuk segera mencangkul, berjualan, atau jadi konten kreator.

SAR, tentu saja, tahu persis medan bunyi tempat ia bermain. Ia bukan politisi sembarangan. Ia bukan sekadar pembicara, tetapi arsitek tafsir. Dalam dunia politik post-truth, kejelasan bukanlah kebajikan, melainkan kelemahan. Maka, ia tidak berkata, “Saya akan bagi-bagi bantuan.” Ia juga tidak bilang, “Saya suruh kalian kerja.” Ia cuma melempar satu kata—“alako”—dan membiarkan masyarakat menyusun asa di atas suara yg ambigu.

Tindakan ini, dalam teori linguistik Roman Jakobson, dapat masuk ke dalam ranah fungsi metalinguistik, yaitu ketika bahasa dipakai untuk bernegosiasi tentang bahasa itu sendiri. Tapi dalam praktik politik lokal, ini bukan sekadar metabahasa. Ini adalah meta-tipuan. Sebuahspeech actyang tidak benar-benar berkata apa-apa, tetapi sanggup memproduksi harapan, tafsir, dan—jika beruntung—suara di bilik pemilu.

SAR tidak berbohong. Ia cuma bermain di wilayah ambiguasi terstruktur, sebuah teknik politik di mana makna sengaja dikaburkan supaya dapat ditafsirkan sesuai kebutuhan. Ini bukan dusta, melainkan seni menyisipkan kebingungan dalam takaran yg dapat ditoleransi massa. SAR tidak memberikan janji palsu, ia cuma memberikan mengatakan terbuka—semacam metafora demokratis yg dapat diisi siapa pun sesuai selera.

Strategi ini sejatinya bukan hal baru. Dalam dunia semiotika, ini disebut sebagaipolysemous signifier—penanda yg membuka banyak pintu makna. Namun, dalam konteks politik elektoral, ini dapat dimaknai sebagai bentuk kamuflase retoris, tempat di mana satu mengatakan menjalankan fungsi ganda: aspiratif & imperatif sekaligus. Seperti pisau dapur yg dapat dipakai untuk memotong semangka atau memotong anggaran.

Tentu, fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam kajian pragmatik interkultural, keadaan seperti ini tidak dianggap sebagai kecelakaan komunikasi, tetapi sebagai peluang semiotik. Kesalahpahaman adalah semacamice breakerlinguistik yg dapat membangun relasi, menciptakan keintiman palsu, atau membuka ruang tawar-menawar makna. Bahkan, politisi lokal yg cerdik sering mengpakai celah ini sebagai alat untuk memikat konstituen dari berbagai etnis. Mereka menyusun pidato bukan berdasarkan ideologi, tetapi berdasarkan kemungkinan disalahartikan secara produktif.

Dengan mengatakan lain, mereka tidak membangun wacana, melainkan jebakan bunyi.

“Alako” adalah simbol dari jebakan itu. Ia tidak memiliki bentuk janji yg eksplisit, tetapi cukup untuk menciptakan orang berharap. Ia bukan kontrak sosial, tetapi cukup menyerupai bentuknya. Ia seperti brosur properti dengan gambar rumah mewah, padahal yg dijual adalah kavling kosong di pinggir sungai.

Politik lokal, pada akhirnya, bukan cuma soal program & janji. Ia adalah permainan linguistik yg licin, di mana kejelasan dianggap terlalu berisiko, & ambiguitas adalah strategi pertahanan terbaik. SAR tahu bahwa kalau ia terlalu jelas, ia akan dibantah. Tapi kalau ia cukup kabur, maka siapa pun dapat merasa sepakat.

Lanskap linguistik ini juga membentang dalam mengatakan lain yg tak kalah licik: “pess.” Dalam bahasa Madura, mengatakan ini berarti uang—simbol janji kampanye yg konkret & terukur. Namun, dalam bahasa Bugis, “pess” berarti jahe—rempah tradisional yg sering dipakai untuk menciptakansarebba, minuman hangat yg menenangkan, tetapi jauh dari nilai tukar rupiah. Ketika politisi berjanji akan membagikan “pess” kepada rakyat, beberapa warga segera membayangkan amplop. Tapi saat yg datang cuma secangkirsarebbagratis, semua tafsir pun dikunci dalam campuran air jahe & gula Jawa yg ambigu.

Dalam keadaan seperti ini, penutur Madura yg mendengar “alako”dari politisi Bugis cenderung lebih beruntung. Kata “pess” berarti uang, & “alako” berarti “ambil saja”—kombinasi fonetik yg menyerupai kemenangan lotre. Sebaliknya, kalau posisi dibalik, makna berubah jadi sebaliknya: “pess” hanyalah jahe, & “alako” berarti “kerja, sana!”—sebuah paket lengkap penderitaan simbolik: kerja paksa & suguhansarebbapanas.

Dan akhirnya, kita tentu berharap SAR bukanlahwijaMadura yg fasih dua bahasa lalu menjadikannya alat siasat politik—memainkan bunyi untuk menyamarkan makna. Kita harap percaya bahwa SAR-Kanaah, pasangan terpilih dalam Pilbup kemarin, benar-benar representasi aspirasi rakyat Sidrap, bukan cuma gabungan nama yg kebetulan menyerupai Sarkonah—nama khas di lingkungan penutur bahasa Madura, yg kini terdengar seperti metafora takdir linguistik: gabungan antara asa & strategi bilingual, dikemas dalam satu paket kampanye multisemantis.

Sebelum tulisan ini benar-benar ditutup & kita kembali ke dunia nyata yg tak sering fonetik, izinkan saya menyelipkan satu pantun Madura. Bila maknanya terasa mengambang, itu bukan karena saya tidak jelas—itu semata karena bunyi sering punya cara sendiri untuk bersembunyi. Bagi yg bingung, jangan panik. Pojoksarebbatersedia, silakan antri dengan tertib. Ketidakmengertian adalah bagian dari keindahan. Silakan tersenyum, tertawa kecil, atau pura-pura paham sambil menyeruputsarebba. Dan kalau Anda langsung tertawa lepas tanpa perlu waktu mencerna, akbar kemungkinan Anda memang orang Madura, atau minimal pernah hidup cukup lama di tengah percakapan warung kopi yg penuh dengan plesetan & jebakan bunyi.

Kagilia tade’ ombe’
bede ombe’ tade’ gilina
Abinia tade’ s ande’
bede s ande’ tade’ gigina

Saromase Sidenreng Rappang!!

wgnewss.com adalah segala laporan mengenai peristiwa, kejadian, gagasan, fakta, yang menarik perhatian dan penting untuk disampaikan atau dimuat dalam media massa agar diketahui atau menjadi kesadaran umum.

  1. https://paste.beba.st/
  2. https://shortlyfi.com/
  3. https://socialprooff.com/
  4. https://twitemedia.com/
  5. https://gametendangbola.com/
  6. https://kringtube.com/
  7. https://allgamerandom.com/
  8. https://qrgenerator1.com/
  9. https://multitoolspro.com/
  10. https://newstreetjob.com/
  11. https://bignewss.com/
  12. https://batam.co.id/
  13. https://wgnewss.com/
  14. https://kalilinux.info/
  15. https://wiblinks.com/
  16. https://magictoolsthemes.com/
  17. https://sunting.id/
  18. https://wagam.net/
  19. https://www.billspennsyphotos.com/
  20. layarkaca21
  21. mulia77
  22. maxwin25
  23. slot25
  24. https://slot25.it.com/
  25. https://www.billspennsyphotos.com/
  26. slot ngacir
  27. lk21
  28. http://conciliacion-metrowifi.etapa.net.ec/