Cerita & Realita di Balik Sensasi Temuan Arkeologi Soppeng
Untuk memahami persoalan ini, kita perlu membedakan antara menemukan benda purba & membuktikan keberadaan manusia purba. Serpihan batu tajam memang sering diasosiasikan dengan teknologi manusia purba, tetapi tidak semua batu tajam adalah hasil karya tangan manusia. Ada proses-proses alam, seperti longsor, erosi, benturan batu di sungai, atau tekanan lapisan tanah, yg dapat menghasilkan bentuk mirip kapak purba. Dalam arkeologi, fenomena ini diketahui sebagaigeofactyakni benda alami yg sekilas menyerupai artefak buatan. Karena itulah, setiap klaim tentang alat batu perlu diverifikasi lewat analisis mendalam, termasuk pengamatan mikroskopis pada tepiannya untuk melihat apakah ada bekas pakai(use-wear)atau pola retakan yg khas akibat pemangkasan oleh manusia.
Masalahnya, bentuk serpihan yg ditemukan di Soppeng jauh dari apa yg biasanya dibayangkan sebagai kapak tanganHomo erectusatauHomo habilisyang kita kenal dari situs-situs klasik di Afrika & Asia. Ia tidak simetris, ukurannya kecil, tepinya tidak rata, & tidak memperlihatkan pola pemangkasan berulang yg jelas. Dengan mengatakan lain, dari sisi morfologi, ia lebih dekat pada pecahan batu biasa ketimbang kapak seperti yg dibayangkan media. Penyebutan kapak purba dalam pemberitaan lokal tampaknya lebih karena alasan dramatis & pemasaran berita, bukan deskripsi teknis yg akurat.
Lalu ada pertanyaan akbar lain: di mana pembuatnya? Dalam penemuan-penemuan akbar dunia, hubungan antara alat & pembuatnya biasanya jelas. Situs Olduvai Gorge di Tanzania, misalnya, menyajikan kombinasi tiga bukti sekaligus: artefak batu Oldowan yg khas, tulang hewan dengan bekas sayatan, & fosilHomo habilisdalam lapisan tanah yg sama. Di Dmanisi, Georgia, penemuan alat batu sederhana disertai dengan tengkorakHomo erectusyang utuh, sehingga kisah migrasi awal manusia keluar dari Afrika mendapat pijakan kokoh. Bahkan di Flores, temuanHomo floresiensisdisertai dengan bukti peralatan batu yg konsisten secara stratigrafi.
Kontrasnya, di Soppeng, kita cuma memiliki artefak batu & penanggalan lapisan tanah. Tidak ada tulang, tidak ada gigi, tidak ada fosil hominin sama sekali. Tanpa ini, kita tidak dapat memastikan apakah artefak itu benar dibuat oleh manusia purba, atau bahkan apakah ia berasal dari masa 1,4 juta tahun lalu sebagaimana lapisan sedimennya. Masalah stratigrafi dalam situs terbuka seperti ini adalah adanya kemungkinan pergeseran benda dari lapisan lebih muda ke lapisan lebih tua akibat aktivitas alam, seperti gempa, longsor, atau pergerakan tanah. Jadi, meskipun lapisan tanah terukur dengan baik lewat magnetostratigrafi atau metode lain, umur benda di dalamnya belum tentu sama persis dengan umur lapisan itu.
Dari sini kita mulai melihat bahwa sensasi yg diangkat media sering tidak seimbang dengan kekuatan buktinya. Klaim mematahkan teori lama Wallacea terdengar menarik, tetapi sebenarnya para arkeolog sudah lama mempertimbangkan kemungkinan adanya migrasi manusia purba lebih awal ke kawasan ini. Yang baru dari temuan Soppeng adalah tanggal yg diajukan jauh lebih tua dari bukti sebelumnya. Namun, tanggal ini akan jadi argumen rapuh kalau tidak didukung oleh data tambahan berupa fosil hominin atau artefak yg morfologinya jelas buatan manusia.
Untuk menolong membayangkan tingkat kekuatan bukti ini, kita dapat memakai analogi sederhana. Bayangkan kita berjalan di hutan & menemukan sandal jepit. Kita lalu berkata, Berarti ada manusia di sini sejuta tahun lalu. Pernyataan itu terdengar mengada-ada, karena sandal yg kita temukan dapat saja hanyut dari desa terdekat beberapa hari sebelumnya. Dalam arkeologi, kita memerlukan konteks yg kuat: di mana sandal itu ditemukan, apakah ada jejak kaki di sekitarnya, apakah ada barang lain yg seumuran, & apakah kita dapat memastikan tanggalnya. Tanpa ini, klaim kita akan mudah dipatahkan.
Sejarah arkeologi dunia penuh dengan contoh klaim spektakuler yg kemudian direvisi atau bahkan dibatalkan karena bukti pendukungnya lemah. Penemuan Manusia Piltdown di Inggris, misalnya, sempat memicu euforia karena dianggap sebagai fosil transisi penting, tetapi puluhan tahun kemudian terbukti sebagai rekayasa. Ada pula temuan batu artefak di beberapa situs Eropa yg setelah diperiksa ulang ternyata hanyalah pecahan batu akibat pembekuan & pencairan tanah. Kasus-kasus ini mengajarkan bahwa kehati-hatian jauh lebih penting daripada sensasi, khususnya kalau temuan tersebut berpotensi mengubah narasi akbar tentang sejarah manusia.
Memang, tidak semua penemuan tanpa fosil harus langsung ditolak. Ada situs-situs awal di Afrika & Asia yg perdana kali cuma ditemukan artefaknya, baru kemudian fosil manusianya menyusul ditemukan setelah penggalian bertahun-tahun. Namun, dalam kasus seperti itu, artefak biasanya memiliki ciri teknis yg sangat jelas sebagai buatan manusia, sehingga statusnya sebagai bukti aktivitas hominin lebih kuat. Di Soppeng, kita belum mencapai titik itu. Bentuknya sederhana, analisis bekas pakainya belum dipublikasikan secara rinci, & hubungan dengan lapisan tanahnya masih dapat diperdebatkan.
Penting juga untuk diingat bahwa jurnal sepertiNaturememiliki kecenderungan memilih penelitian yg mengguncang teori lama karena faktor kebaruan berita(newsworthiness). Ini tidak berarti penelitian tersebut asal-asalanreviewNaturetetap ketattetapiframingdan cara ia dipasarkan ke publik sering kali menonjolkan bagian yg paling dramatis. Dalam proses ini, nuansa & keterbatasan ilmiah kadang hilang, apalagi setelah berita itu diterjemahkan ke media biasa yg punya logika judul bombastis demi klik & pembaca.
Kalau kita mengambil jarak dari sensasi, posisi temuan Soppeng saat ini lebih tepat disebut sebagai indikasi awal daripada bukti pasti. Ia membuka peluang penelitian baru, memicu pertanyaan, & mungkin mengarah pada penemuan yg lebih akbar kalau penggalian dilanjutkan. Tetapi, untuk mengpakainya sebagai dasar mengubah garis waktu migrasi manusia purba ke Wallacea, kita membutuhkan bukti yg lebih lengkap: artefak dengan ciri teknis yg tegas, fosil hominin, serta bukti kontekstual lain seperti sisa tumbuhan dengan bekas potongan.
Sampai saat itu tiba, para peneliti sebaiknya berhati-hati dalam memilih kata-kata, & publik sebaiknya menahan diri darieuforiaberlebihan. Sejarah manusia adalah teka-teki akbar yg potongannya ditemukan sedikit demi sedikit, bukan lewat satu penemuan yg tiba-tiba menyelesaikan seluruh gambarnya. Temuan Soppeng mungkin adalah satu potongan penting itu, atau mungkin cuma batu biasa yg kebetulan berada di tempat yg tepat pada waktu yg salah. Sains bekerja dengan cara menguji, memeriksa, & meragukan, bukan dengan menetapkan kesimpulan sebelum waktunya.
Penemuan artefak batu di Soppeng memang menarik karena membuka kemungkinan baru dalam studi migrasi manusia purba di Wallacea. Namun, tanpa fosil, tanpa bukti kontekstual seperti jejak sayatan, tanpa analisis konservatif geologi & stratigrafi, narasi sensasional belum seimbang dengan kualitas bukti yg ada. Sejarah manusia adalah teka-teki panjang, & setiap potongan butuh verifikasi & ketelitian ilmiahtidak cukup cuma denganheadlinebombastis.