Loading Now

Re-Kolonialisasi: Konstruksi Nalar Kolektif & Hegemoni Simbolik

Re-Kolonialisasi: Konstruksi Nalar Kolektif & Hegemoni Simbolik

Sejarah tidak pernah mati; ia cuma berganti kulit. Kolonialisme yg dulu hadir dengan meriam, kapal layar, & bendera kini datang tanpa bunyi. Ia menyusup, merembes, & berdiam dalam ruang terdalam pencerahan kolektif kita. Di layar kaca, wajah-wajah blasteran menatap kita dengan senyum yg dipuja; di lapangan hijau, kaki-kaki keturunan Belanda berlari dengan laju yg dielu-elukan; di akta kelahiran, nama-nama Eropa menggantikan bunyi lokal yg dulu bergaung sebagai penanda identitas. Semua ini tampak biasa, bahkan membanggakan. Namun, di balik permukaan yg tampak netral, nalar kolektif kita perlahan dibentuk ulang bukan oleh kekerasan, melainkan oleh rayuan simbolik yg menata ulang cara kita melihat dunia, diri, & masa depan.

Kolonialisme klasik, sebagaimana dijelaskan Edward Said dalam Culture and Imperialism(1993), tidak pernah benar-benar berakhir. Ia bertransformasi jadi sistem representasi, menyusup ke bahasa, budaya, bahkan pengetahuan. Sejarah jadi senjata paling efektif: bukan lagi untuk menaklukkan wilayah, tetapi untuk menundukkan kesadaran. Michel de Certeau, dalam The Writing of History (1975), menegaskan bahwa historiografi sering merupakan strategi: ia menentukan siapa yg layak diingat & siapa yg harus dilupakan. Dengan cara ini, kolonialisme menata ulang memori kolektif, menghapus luka, & menggantinya dengan kisah-kisah kemajuan & modernitas yg meninabobokan.

Nalar kolektif atau collective reasoning bukan sekadar pencerahan bersama, melainkan sebuah mesin tak kasat mata yg memproduksi logika sosial. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai doxa: sistem keyakinan yg diterima tanpa pertanyaan, seolah-olah alami. Ketika paras blasteran dianggap lebih cantik, ketika pemain keturunan Belanda dirayakan sebagai pahlawan nasional di sepakbola, atau ketika nama Eropa dianggap lebih bergengsi, itu bukanlah kebetulan. Itu adalah hasil kerja panjang kolonialisme simbolik yg menormalisasi superioritas Barat.

Homi K. Bhabha, dalam The Location of Culture (1994), menawarkan konsep hybridity untuk memahami ambivalensi ini. Kolonialisme tidak cuma menindas, tetapi juga menciptakan ruang ketiga third space di mana penaklukan berbaur dengan penerimaan. Dalam ruang ini, tubuh blasteran tidak cuma dilihat sebagai produk kolonial, tetapi juga sebagai janji masa depan. Roland Barthes, lewat Mythologies (1957), menjelaskan bahwa mitos bekerja dengan cara menaturalisasi ideologi, mengubah konstruksi sejarah jadi sesuatu yg tampak alamiah.

Fenomena naturalisasi pemain sepakbola keturunan Belanda jadi contoh paling nyata. Proses naturalisasi ini dikemas dengan narasi patriotisme: demi kejayaan sepakbola nasional, darah Belanda dianggap sebagai anugerah. Media menggandakan citra ini, menampilkan tubuh-tubuh tinggi & atletis sebagai bukti keunggulan genetik. Padahal, seperti diungkap Bourdieu dalam Distinction (1979), nilai yg dilekatkan pada tubuh tersebut hanyalah akumulasi symbolic capital modal simbolik yg dibentuk oleh sejarah panjang rekanan kuasa.

Hayden White, dalam Metahistory (1973), mengingatkan bahwa sejarah sering dibentuk oleh narasi. Narasi naturalisasi menghapus jejak kolonial yg melahirkan genealoginya, & menggantinya dengan cerita heroik tentang pengabdian nasional. Tubuh blasteran itu tidak lagi dibaca sebagai sisa kolonialisme, tetapi sebagai simbol kemajuan bangsa.

Proses internalisasi ini adalah bentuk hegemoni yg dijelaskan Antonio Gramsci dalam Prison Notebooks (19291935). Kekuasaan tidak lagi bekerja melalui paksaan, tetapi melalui konsensus: publik menerima dominasi karena ia tampak normal, bahkan diharapkan. Dalam konteks ini, rekolonialisasi tidak membutuhkan perang. Ia cukup hadir melalui simbol, bahasa, & citra.

Di dunia selebriti, logika yg sama berulang. Nama-nama bernuansa Eropa seperti Jennifer, Jensen, White, atau van Houten mendominasi pentas hiburan. Barthes akan melihat fenomena ini sebagai mitos modern: sistem tanda yg mengaitkan nama dengan status, glamor, & kemajuan. Anak-anak diberi nama Barat bukan semata karena keindahan bunyi, melainkan karena internalisasi simbolik bahwa Eropa adalah standar peradaban.

Nalar kolektif yg sama merasuk ke dunia olahraga. Pencarian pemain keturunan Belanda dilihat sebagai strategi nasional, bukan gejala inferioritas. Tubuh-tubuh blasteran dianggap lebih unggul: lebih tinggi, lebih cepat, lebih tangguh. Slavoj iek, dalam The Sublime Object of Ideology (1989), menyebut struktur ini sebagai fantasy frame kerangka fantasi kolektif yg mengatur hasrat sosial. Kita tidak cuma mengharapkan kemenangan, tetapi juga fantasi tentang kedekatan dengan Eropa.

Linda Tuhiwai Smith, dalam Decolonizing Methodologies (1999), menunjukkan bahwa kolonialisme modern bekerja dengan menyingkirkan epistemologi lokal & menggantinya dengan logika Barat yg dianggap lebih sahih. Dalam konteks ini, tubuh blasteran, nama Barat, & naturalisasi pemain sepakbola bukan sekadar fenomena sosial, melainkan bagian dari proyek epistemik yg mengatur cara kita berpikir.

Keberhasilan rekolonialisasi terletak pada kemampuannya menciptakan rasa kenormalan. Melalui paparan berulang, simbol-simbol kolonial jadi akrab, bahkan diidamkan. Robert Zajonc (1968) menyebut prosedur ini sebagai mere exposure effect: sesuatu jadi lebih disukai cuma karena sering dilihat. Wajah blasteran di televisi, nama Eropa di media sosial, hingga liputan heroik pemain naturalisasi, semua mengukuhkan logika kolonial dalam pencerahan publik.

Achille Mbembe, dalam On the Postcolony (2001), menyebut bentuk kekuasaan ini sebagai kekuasaan cair: ia tidak hadir sebagai dominasi frontal, tetapi sebagai kehadiran yg intim & natural. Rekolonialisasi bekerja seperti bayangan: tak terlihat, tetapi sering ada, mengikuti gerak tubuh & pikiran kita.

Masalah utama terletak pada ketidaksadaran kolektif. Ketika publik merayakan keberhasilan pemain naturalisasi atau memuja selebriti berwajah Eropa tanpa mengkritisi struktur simbolik di baliknya, nalar kolektif sudah sepenuhnya dikooptasi. Proses ini bukan sekadar imitasi, melainkan penyerahan diri yg berlangsung tanpa resistensi.

Pembentukan nalar kolektif ini tidak lepas dari peran institusi formal & informal. Kurikulum pendidikan masih menempatkan Barat sebagai pusat pengetahuan. Media massa terus memproduksi citra yg mengulang superioritas Eropa. Negara, melalui kebijakan naturalisasi & promosi budaya populer, secara tidak langsung mengafirmasi simbol kolonial. Michel Foucault dalam The Order of Things (1966) menguraikan bagaimana struktur pengetahuan menentukan cara berpikir masyarakat, mengunci imajinasi kolektif dalam kerangka yg sudah ditentukan.

Untuk membongkar prosedur ini, dekonstruksi jadi langkah epistemik yg tak terhindarkan. Jacques Derrida, dalam Of Grammatology (1967), mengajarkan bahwa setiap sistem tanda memiliki celah titik rapuh yg memungkinkan pembalikan. Melawan nalar kolektif kolonial berarti mengungkap prosedur yg menaturalisasi dominasi, sekaligus membangun ruang untuk menulis ulang narasi.

Rekolonialisasi, dengan demikian, bukanlah peristiwa tunggal, melainkan proses panjang yg berlangsung senyap. Ia hidup dalam bahasa, estetika, olahraga, bahkan mimpi kolektif tentang kemajuan. Tanpa pencerahan kritis, kita cuma akan jadi figuran dalam drama sejarah yg skenarionya sudah lama ditulis drama di mana kita, dengan sukarela, mengangkat simbol-simbol kolonial sebagai bendera masa depan.

wgnewss.com adalah segala laporan mengenai peristiwa, kejadian, gagasan, fakta, yang menarik perhatian dan penting untuk disampaikan atau dimuat dalam media massa agar diketahui atau menjadi kesadaran umum.

  1. https://paste.beba.st/
  2. https://shortlyfi.com/
  3. https://socialprooff.com/
  4. https://twitemedia.com/
  5. https://gametendangbola.com/
  6. https://kringtube.com/
  7. https://allgamerandom.com/
  8. https://qrgenerator1.com/
  9. https://multitoolspro.com/
  10. https://newstreetjob.com/
  11. https://bignewss.com/
  12. https://batam.co.id/
  13. https://wgnewss.com/
  14. https://kalilinux.info/
  15. https://wiblinks.com/
  16. https://magictoolsthemes.com/
  17. https://sunting.id/
  18. https://wagam.net/
  19. https://www.billspennsyphotos.com/
  20. layarkaca21
  21. mulia77
  22. maxwin25
  23. slot25
  24. https://slot25.it.com/
  25. https://www.billspennsyphotos.com/
  26. slot ngacir
  27. lk21
  28. http://conciliacion-metrowifi.etapa.net.ec/